Kerajaan Kerajaan Di Pulau Sumba
KERAJAAN-KERAJAAN DI PULAU SUMBA
Orang Sumba umumnya sepakat tidak ada yang namanya kerajaan dalam sistem pemerintahan tradisional mereka. Dan jika dikaji secara mendalam apa yang disebut kerajaaan di Sumba memang tidak sama persis dengan sistem kerajaan sebagaimana diterapkan di Eropa atau di Jawa.
Menurut Pura Woha dan beberapa Nara Sumber lain, pemerintahan tradisional Sumba awalnya berupa sistem Paraingu (kampung besar), hal mana bisa dirunut dari sejarah kedatangan nenek moyang mereka.
Pada zaman dulu, setelah rombongan leluhur yang datang ke Pulau Sumba bertambah banyak, mereka mulai membentuk kelompok-kelompok kekerabatan besar (klan) yang didasarkan pada kesamaan asal-usul dan Marapu yang dipuja. Kelompok ini di sebut kabihu.
Beberapa Kabihu kemudian bergabung dalam penguasaan tanah atau wilayah tertentu lalu membangun suatu negeri (disebut paraingu dalam bahasa Kambera atau Wanno Kalada dalam bahasa Loli).
Selanjutnya, agar kehidupan di paraingu baru tersebut dapat berjalan dengan tertib, kabihu-kabihu yang ada melakukan musyawarah. Mereka menetapkan suatu tata cara hidup yang disebut nuku-hara (hukum dan cara). Tugas-tugas menyangkut urusan duniawi dan terutama urusan rohaniawi dibagi-bagi diantara kabisu yang ada.
Pembagian tugas ini umumnya didasarkan pada tugas atau peranan leluhur masing-masing kabihu di masa lalu, sehingga menjadi kewajiban kabihu bersangkutan untuk berhubungan dengan para leluhur demi kepentingan masyarakat yang ada sekarang. Dengan demikian,pemerintahan tradisional Sumba pada dasarnya merupakan pemerintahan kolektif, yang dijalankan secara bersama-sama oleh kabisu-kabisu, dibawah pimpinan individu-individu tertentu, yang masing-masing mengemban tugas tersendiri. Semua tunduk pada hukum adat. Semua diayomi dan dilindungi oleh Ina – Ama (secara harafiah berarti Ibu- Bapak). Ina-Ama ini pada dasarnya adalah seorang tokoh yang dihormati, yang bertugas memimpin dan melindungi masyarakat secara umum. Untuk menjadi tokoh sepertiitu seseorang tentu harus memeliki beberapa kualifikasi tertentu seperti kekuatan fisik,kecerdasan, kekayaan, dan lain sebagainya. Namun perlu dipahami bahwa Ina-Ama initidak sama dengan raja yang memiliki kekuasaan absolut.
Seperti julukannya, ia lebih berperan sebagai orang tua yang menengahi segala permasalahan dan mengayomi seluruh keluarga besarnya (masyarakat) dalam suatu sistem kekeluargaan yang bergotongroyong. Pengaruh atau kekuasaan Ina-Ama sendiri cenderung terbatas pada paraingunya sendiri, yang saling bersekutu atau bersaing dengan paraingu-paraingu lain yang banyak jumlahnya.
Tidak ditemukan informasi akurat yang menerangkan perubahan sitem paraingu menjadi sitem kerajaan.
Yang jelas sistem ini muncul seiring kedatangan bangsa Belanda yang langsung menerapkan sistem pemerintahan yang sama dengan sistem pemerintahan di negara asalnya yaitu sistem kerajaan. Hal ini terkait dengan kebijakan Belanda untuk menguasai suatu wilayah demi kepentingan kekuasaannya, dimana tidak adanya seorang pemimpin yang berkuasa mutlak dalam sistem pemerintahan tradisional agak menyulitkan mereka dalam menancapkan pengaruh. Hal ini tidak hanya berlaku di Sumba tapi juga di wilayah-wilayah Nusa Tenggara Timur pada umumnya.
Untuk mempermudah kontrol, Belanda mulai membangun hubungan dengan para penguasa tradisional.Mereka melakukan kontrak kerjasama, dimana setiap penguasa tradisional yang menandatangani kontrak (sering disebut Kontrak Plakat Pendek atau Korte Verklaring) diakui secara resmi dan disebut raja lalu diberi tongkat sebagai tanda kekuasaan.
Dari sinilah kata tokko (tongkat) menjadi populer. Ada dua jenis tongkat yakni tongkat berkepala emas (tokko ndoko) yang diberikan kepada raja utama, dan tongkat berkepala perak (tokkoamaho kaka) untuk raja bantu (Widyatmika, dkk, 2011)
Raja yang mendapat pengesahan dari pemerintah Belanda harus mengakui kedaulatan penguasa Belanda dan salah satu tugas pentingnya adalah menarik pajak untuk kepentingan Belanda. Dengan demikian kedaulatan mereka sebetulnya telah berada di bawah penguasaan bangsa lain, namun secara de facto raja-raja tersebut tetap berdaulat dan sangat dihormati oleh rakyatnya dan melalui mereka Belanda menancapkan kekuasaan kepada seluruh masyarakat. Seperti telah dijelaksan sebelumnya, di wilayah Sumba Sebelum pemekaran kabupaten baru saat itu terdapat sembilan kerajaan atau swapraja yaitu: Kodi, Laura, Wewewa, Laboya, Anakalang, Wanokaka, Memboru, Loli, dan Umbu Ratu Nggay & serta beberapa wilayah di Sumba Timur.
KERAJAAN – KERAJAAN DI SUMBA BAGIAN TIMUR
1. KERAJAAN RINDI
Tahun 1893 Kerajaan RINDI dibentuk & pada tahun1912.
Tahun 1893 – 1918 : di pimpin oleh Raja “Umbu Hina Marumata”
Tahun 1918 – 1932 : di pimpin oleh Raja “Umbu Lili Kani Paraing”
Tahun 1932 – Dec 1960: di pimpin oleh Raja “Umbu Hapu Hamba Ndina”
Tahun 1960 – 1962 : di pimpin oleh Raja “Umbu Wanggi Keimawleu(Umbu Kubu)”
Tahun 1960 – 1962 : di pimpin oleh Raja “Umbu Joenggoe Mbili “
2. KERAJAAN NAPPU
Kerajaan Nappu dibentuk pada tahun 1860
Tahun 1860 – 1870: di pimpin oleh Raja “Umbu Kambara Windi”
Tahun 1870 – 18..: di pimpin oleh Raja “Umbu Dai Kudu”
Tahun 18.. – 1890: di pimpin oleh Raja “Umbu Renggi Taai”
Tahun 1890 – 12 Feb 1910: di pimpin oleh Raja “Umbu Timbu Nduka Laki Mora”
Tahun 1910 – 27 Aug 1914: di pimpin oleh Raja “Umbu Rawa”
Tahun 1914 – 1927: di pimpin oleh Raja Umbu “Landu Kura”
Tahun 1927 – 1928: di pimpin oleh Raja “Umbu Rada”
Tahun 1928 Kerajaan Napu Digabungkan dengan Kerajaan Kapunduk.
3. KERAJAAN MANGILI
Kerajaan Mangili dibentuk pada tahun 1699
Tahun 1699 – 1725: di pimpin oleh Raja “Mandi”
Tahun 1725 – 1750: di pimpin oleh Raja “Tajuka”
Tahun 1750 – ….: di pimpin oleh Raja “Umbu Tanga Ndemalulu”
Tahun …. – 1860 ….:————————————-
Tahun 1860 – 18..: di pimpin oleh Raja “Umbu Mangku”
Tahun 18.. – c.1899: di pimpin oleh Raja “Umbu Dena Lukamara”
Tahun 1901 – 1911: di pimpin oleh Raja “Umbu Hina Hunggawali”
Tahun 1911 – 1916: di pimpin oleh Raja “Umbu Tungu Eta”
Tahun 1912 Kerajaan “Mangili” bergabung dengan Kerajaan “Waijilu”.
Tahun 1916 wilayah sisa digabungkan dengan “Kerajaan RINDI”
4. KERAJAAN UMALULU
Tahun Kerajaan Ini dibentuk Belum diketahui
Tahun 1700 – 1750: di pimpin oleh Raja “Umbu Siwa Tanangunju””
Tahun 1776 – ….: di pimpin oleh Raja “Umbu Hin Hamatake” I
Tahun …. – 1862: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggala Lili”
Tahun 1862 – 1866: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggaba Haumara I”
Tahun 1866 – c.1890: di pimpin oleh Raja “Umbu Tanggu Rami”
Tahun 1890 – 1892: di pimpin oleh Raja “Ama Luji Dimu”
Tahun 1892 – 1893: di pimpin oleh Raja “Tay Tunggu Rawe”
Tahun 1893 – 17 Jul 1932: di pimpin oleh Raja “Umbu Hia Hamataki II”
Tahun 1932 – 11 Sep 1946: di pimpin oleh Raja “Umbu Hina Janggakadu”.
Tahun 1946 – 1959: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggaba Haumara II “
Tahun 1959– 1962: di pimpin oleh Raja “Umbu Windi Tana Nggunju “
5. KERAJAAN KARIARA
Kerajaan Kariara dibentuk Pada tahun 1892
Tahun 1892 – 1897 di pimpin oleh Raja “Umbu Mutu Damunamu”
Tahun 1897 – 1912 di pimpin oleh Raja “Umbu Haru Halomatu”
6. KERAJAAN MAHU
Kerajaan Mahu dibentuk pada tahun 1909
Tahun 1909 – 1912 di pimpin oleh Raja “Umbu Ndawa Hawula (Umbu Nai Laki)”
7. KERAJAAN MAHU KARIARA
Pada tahun 1912 kerajaan Mahu digabungkan dengan kerajaan Kariara sebagai kerajaan Mahu-Kariara.
Tahun 1912 – 1932 di pimpin oleh Raja “Umbu Ndawa Hawula”
Tahun 1932 – 1954 di pimpin oleh Raja “Umbu Nengi Landumeha (Umbu Nai amba)”
Tahun 1954 – 1962 di pimpin oleh Raja “Umbu Hina Pekambani (Umbu Maramba)”
8. KERAJAAN LEWA
Kerajaan Lewa dibentuk pada tahun 1750
Tahun 1750 – 1756: di pimpin oleh “Raja Pura”
Tahun 1756 – …. di pimpin oleh Raja “Umbu Hina Hanggu Wali”
Tahun …. – …. di pimpin oleh Raja”Umbu Nggala Lili Kani Paraingu”
Tahun …. – 1874: di pimpin oleh Raja “Umbu Diki Kama Pira Ndawa I”
Tahun 1874 – 1891: di pimpin oleh Raja “Umbu Tunggu Maramba Namu Paraingu”
Tahun 1892 – 1917: di pimpin oleh Raja “Umbu Jawa Karai Manjawa (Umbu Bidi Tau)”
Tahun 1902 – 1913: di pimpin oleh Raja “Umbu Tunggu Namu Paraing –Regent”
Tahun 1917 – 1924: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggaha Hau Mara”
Tahun 1924 –1940: di pimpin oleh Raja“Umbu Diki Kama Pira Ndawa II(Umbu Rarameha)”
Tahun 1924 – 1930: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggaba Hunga –Regent”
Tahun 1940 – 1965: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggaba Hungu Rijhi Eti”
Tahun 1965 – c.2002: di pimpin oleh Raja Masa peralihan pemerintahan
Tahun 2002 – di pimpin oleh Raja “Umbu Ndjaka”
9. KERAJAAN WAIJILU
Kerajaan Waijilu dibentuk pada tahun 1892
Tahun 1892 – 1898: di pimpin oleh Raja “Umbu Nggaba Kalai”
Tahun 1899 – 1927: di pimpin oleh Raja “Umbu Tanga Teulu Ata Kawau”
Tahun 1927 – 1932: di pimpin oleh Raja “Umbu Tanga Teulu Jawa Pangu”
Tahun 1932 – 1942: di pimpin oleh Raja “Umu Yiwa Ngganja”
Tahun 1942 – 1948: di pimpin oleh Raja “Vacant”
Tahun 1948 – 1962: di pimpin oleh Raja “Umbu Kambaru Windi”
10. KERAJAAN TANAH RIUNG
(tidak ada data tentang kerajaan ini namun ia termasuk dalam daftar 782 kerajaan di nusantara)
11. KERAJAAN KAMBERA
Kerajaan kambiara merupakaan kerajaan terluas di antara semua kerjaan yang berada di sumba timur maupun di sumba tengah dengan rajanya umbu tunggu. Umbu tunggu adalah seorang raja yang berkuasa di sumba timur dan sumba tengah. (Injil dan Marapu, hal 154)
12. KERAJAAN KANATANG
Kerajaan Kanatang dibentuk dibentuk pada tahun 1848
Tahun 1848 – 1891; di pimpin oleh Raja Umbu Nggaba Hambangu Mbani
Tahun 1892 – 1897: di pimpin oleh Raja Umbu Maramba Kambaru Windi Maru Mata
Tahun 1898 – 27 Apr 1913: di pimpin oleh Raja Umbu Gaa Lili
27 Apr tahun 1913 – 1919: ———————————
Tahun 1919 – 9 Sep 1946: di pimpin oleh Raja Umbu Nai Haru(RajaKapunduk)
16 Sep tahun 1946 – 1959: di pimpin oleh Raja Umbu Janggatera
Tahun 1959 – 1962: di pimpin oleh Raja Umbu Kadambungu Nggedingu
13. KERAJAAN KAPUNDUK
Kerajaan Kapunduk dibentuk pada tahun 1869
Tahun 1869 – 1901: di pimpin oleh Raja Umbu Panda Huki Landu Jama (b. c.1834 – d. 1901)
Tahun 1901 – 1904: di pimpin oleh Raja “Umbu Tunggu Namu Praing”
Tahun 1904 – 1916: ——————-
Tahun 1906 – 1914: di pimpin oleh Raja “Umbu Deu Jara Belu”
Tahun 1914 – 1926: di pimpin oleh Raja “Umbu Nai Taku”
Tahun 1926 – 9 Sep 1946: di pimpin oleh Raja “Umbu Nai Haru”
Tahun 1946 Kerajaan kapunduk Digabungkan dengan kerajaan Kanatang.
KERAJAAN – KERAJAAN DI SUMBA BAGIAN BARAT
1. KERAJAAN ANAKALANG
Kerajaan Anakalang dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 23 Desember 1913.Sebelum itu wilayah Anakalang diperintah oleh Umbu Dangu Pasalang yang berkuasadari tahun 1892 -1897, kemudian digantikan oleh Umbu Ndongu Ubini Mesa. Tahun 1913Umbu Ngailu Dedi yang adalah putra Umbu Ndongu Ubini Mesa naik tahta menggantikan ayah nya. Tahun 1927 Umbu Ngailu Dedi meninggal dunia dan digantikan oleh adiknya,Umbu Sappi Pateduk. Selanjutnya Umbu Sappi Pateduk digantikan oleh putranya, UmbuRemu Samapaty yang kelak setelah kemerdekaan menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah Sumba Barat selama dua periode.
2. KERAJAAN LAWONDA
Kerajaan ini dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 28 September 1916. Padaawalnya Kerajaan Lawonda melingkupi suatu wilayah adat yang tidak seberapa luas.Di tahun 1915, wilayah Mbolubokat dilepas dari kerajaan Mamboru dan digabungkan dengan kerajaan Lawonda. Begitu juga dengan wilayah Lenang, Soru dan lakoka yang semula berada dalam wilayah kerajaan Napu digabungkan dengan kerajaan Lawonda.Selanjutnya wilayah Wairasa dan Parewatana juga dilepas dari kerajaan Anakalang dan digabungkan dengan kerajaan Lawonda. Wilayah kerajaan inipun menjadi sangat luas dan berganti nama menjadi kerajaan Umbu Ratu Nggay, mengikuti nama seorang leluhur yang dianggap dapat mewakili seluruh wilayah gabungan itu.
Raja Umbu Ratu Nggay yang pertama adalah Umbu Siwa Sambawali I, yang sebelumnya menjabat sebagai raja Lawonda. Beliau wafat di tahun1932 dan digantikan putranya,Umbu Mbili Nggemunasu. Karena dianggap kurang cakap, ia diberhentikan dan diganti oleh adiknya, Umbu Tipuk Marisi alias Umbu Siwa Sambawali II. Di tahun yang sama Umbu Tipuk Marisi dilantik sebagai Bupati Kepala Daerah/Ketua Dewan Raja-raja Sumba dan Habil Hudang ditunjuk mewakili beliau menjalankan pemerintahan sehari-hari di Umbu Ratu Nggay. Pada jaman kemerdekaan Umbu Tipuk Marisi dipilih menjadi Kepala Daerah pulau Sumba.
3. KERAJAAN LAULI
Kerajaan Lauli dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 25 April 1923 (8 September1912). Kerajaan ini terdiri atas tiga wilayah adat yakni Lauli Bodo (atas), Lauli Bawadan Waibanggga. Sebelum tahun 1912 raja Kerajaan Lauli adalah Umbu Ngailu Beku,kemudian digantikan oleh Dangi Lade, raja Lauli Bawa. Setelah raja Dange Lade meninggal dunia di tahun 1920, di masing-masing wilayah adat diangkat seorang raja kecil atau raja bantu (regent) tersendiri yakni Raja Toda Leru untuk wilayah Lauli Bodo, Raja Keba Buni ngani di wilayah Lauli Bawa dan Raja Giku Umbu Wolika untuk wilayah Waibangga.Ketiganya merupakan suatu Komisi Pemerintahan Kerajaan Lauli. Pada tahun 1927 raja bantu Louli Bawa, Keba Buni ngani digantikan oleh raja Koki Umbu Daka. Raja Giku Umbu Wolika dari Waibangga digantikan oleh Raja Lede Mude. Pada tahun 1932 raja Koki Umbu Daka menjadi raja untuk seluruh Kerajaan Lauli sampai Komisi Pemerintahan Kerajaan Lauli dihapus, namun untuk wilayah Waibangga masih diangkat seorang raja bantu yaitu Dato Goro, menggantikan Raja Lede Mude. Tahun 1940 Raja Koki Umbu Daka meninggal dunia dalam suatu kecalakan mobil. Pada tahun 1941 posisinya digantikan oleh raja Saba Ora yang menjabat sebagai raja sampai terjadinya perubahan pemerintahan.
4. KERAJAAN WANUKAKA
Kerajaan Wanukaka dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 12 Mei 1913 (10 Desember 1914) yang ditandatangani oleh raja Baju Padedangu. Sebelumnya wilayah Wanukaka berada dibawah kekuasaan raja Mawu Madoli, kemudian digantikan oleh raja Ludju Maramba. Setelah Ludju Maramba wafat kedudukannya digantikan oleh raja Baju Padedangu. Tahun 1928 Raja Baju Padedangu menyusul keharibaan Sang Pencipta dan digantikan oleh Raja Goling Manyoa yang menjabat sampai tahun 1956. Ia digantikan oleh adiknya, Lawu Mawu sampai terjadinya perubahan sistim pemerintahan.
4. KERAJAAN WANUKAKA
Kerajaan Wanukaka dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 12 Mei 1913 (10 Desember 1914) yang ditandatangani oleh raja Baju Padedangu. Sebelumnya wilayah Wanukaka berada dibawah kekuasaan raja Mawu Madoli, kemudian digantikan oleh raja Ludju Maramba. Setelah Ludju Maramba wafat kedudukannya digantikan oleh raja Baju Padedangu. Tahun 1928 Raja Baju Padedangu menyusul keharibaan Sang Pencipta dan digantikan oleh Raja Goling Manyoa yang menjabat sampai tahun 1956. Ia digantikan oleh adiknya, Lawu Mawu sampai terjadinya perubahan sistim pemerintahan.
5. KERAJAAN LAMBOYA
Kerajaan ini dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 23 Desember 1913. Pada tahun yang sama Kedu Moto diangkat menjadi raja.Seperti Kerajaan Louli, Kerajaan Lamboya juga terdiri dari tiga wilayahkekuasaan adat yakni Lamboya Deta, Lamboya Wawa dan Patiyala.Pada tahun 1915, wilayah Garoatau Gaura yang tadinya berada diwilayah Kerajaan Mbangedo dilepasdan digabung dengan wilayah Kerajaan Lamboya. Di wilayah ini pernah terjadi perlawanan rakyat dibawah pimpinan Tadu Moli sebagai reaksi atas pajak yang tinggi dan kerja paksa. Letnan de Neeve tewas ditempatini ketika sedang memungut pajak. Pada tahun 1924, raja Kedu Moto terlibat suatuperkara hukum dan dibuang keluar pulau. Sejak saat itu masing-masing wilayah adat di perintah oleh seorang raja bantu atau regent, yaitu: Eda Bora di Lamboya Deta, Jewu Gara di Lamboya Wawa dan Mati Kaba di Patiyala. Semuanya merupaka bagian darisuatu Komisi Pemerintahan Kerajaan Lamboya. Setelah Perang Dunia II, yang bertahan tinggal raja Edu Bora yang kemudian digantikan oleh putranya, Songa Lero.
6. KERAJAAN KODI
Kerajaan Kodi dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 3 Mei 1913. Pemerintah Belanda sebetulnya sudah mengajukan penandatangan Korte Verklaring pada tahun1908 namun di tolak oleh Rato Loghe Kandua, raja Kodi Bokol yang saat itu berkuasa.Penolakan ini mendapat reaksi keras dari Belanda dan pada akhirnya memicu munculnya perlawanan rakyat dibawah pimpinan Wona Kaka. Sebelum tahun 1912 di wilayah Kodi terdapat dua kerajaan yaitu kerajaan Kodi Bokol dan kerajaan Mbangedo. Pada tahun1915 wilayah Rara dan Ede dilepas dari kerajaan Mbangedo dan digabungkan dengan kerajaan Wewewa, begitu pula wilayah Gaura digabungkan dengan kerajaan Lamboya.Pada tahun 1919 raja Mbangedo, Rija Kanda, meninggal dunia dan digantikan oleh Rangga Kura. Tahun 1929 Rangga Kura digantikan oleh Rya Bokola samapi tahun 1931. selanjutnya kerajaan Mbangedo digabung dengan kerajaan Kodi dibawah kekuasaan raja Kodi waktu itu, Dera Wula. Untuk wilayah kerajaan Mbangedo sendiri diangkat seorang raja bantu, yaitu Tari Loghe. Sewaktu beliau wafat digantikan oleh Hermanus RanggaHoro. Raja bantu ini kemudian diangkat menjadi raja Kodi menggantikan Dera Wula yang meninggal dunia pada tahun 1945. Hermanus Rangga Horo menjabat sebagai raja Kodi sampai terjadinya perubahan sistim pemerintahan.
7. KERAJAAN LOURA
Kerajaan Loura dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 23 Desember 1923. Saat itu yang menjabat raja adalah Mbulu Danggangara atau Ama Mburi Kalumbang. Di kemudian hari beliau digantikan oleh kemenakannya Timotius Tako Geli. Pada tahun 1932 timotius Tako Geli terlibat suatu perkara hukum dan dibuang ke Sumbawa Besar NTB. Karna saat itu anaknya yang bernama Lede Kalumbang masih kecil, maka sementara kedudukanya digantikan oleh salah satu kerabat bernama Rua Kaka. Tahun 1947 Lede Kalumbang yang mendapat julukan Lende Nggolunggola II, dilantik menjadi Raja Loura.
Pada tahun 1953 beliau mendapat tugas pemerintahan setempat (KPS) Untuk wilayah Sumba Barat dan di tahun 1958 terpilih menjadi Bupati Kepala Daerah Sumba Barat. Sebelum tahun 1915 wilayah Tanah Righu dan Mbukambero merupakan bagian kerajaan Loura, namun kemudian Tanah Righu digabung dengan Kerajaan Mamboru dan Mbukambero di gabung dengan Kerajaan Kodi.
8. KERAJAAN WEWEWA
Kerajaan ini dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 23 Desember 1913. Kerajaanini terdiri dari beberapa wilayah adat, yaitu Lewata, Mangutana, Mbaliloko, Pola,Weemangura, Taworara, Rara, Ede dan Tanamaringi. Pada saat Korte Verklaring ditanda tangani yang menjadi raja adalah Mete Umbu Pati. Setelah meninggal dunia beliau digantikan oleh putranya, Mbulu Engge. Tahun 1934 Mbulu Engge dibuang ke Sumbawa Besar karena terlibat perkara hukum. Sejak itu kerajaan Wewewa dibagi menjadi tiga wilayah kesatauan yang semuanya berada di bawah sebuah Komisi Pemerintahan yaitu: wilayah Lewata-Mangutana yang diperintah oleh raja Wada Mbombo, wilayah Weemangura dengan raja bantu Gidion Mbulu serta wilayah Pola (Palla) dengan raja bantu Jakub Ina ngele. Komisi ini berada dibawah pengawasan raja Louli, koki Umbu Daka. Setelah kembali dari pembuangan, Mbulu Engge kembali terpilih menjadi raja Wewewa sampai terjadinya perubahan sistim pemerintahan di tahun 1962.
9. KERAJAAN MAMBORU
Kerajaan Mamboru dikukuhkan dengan Korte Verklaring tanggal 28 September 1916.Sebelum itu Kerajaan Mamboru diperintah oleh raja Umbu Pombu Saramani. Beliau meninggal dunia pada tahun 1915, ketika itu putranya, Umbu Mbatu Pakadeta alias UmbuTuaranjani alias Umbu Muhama masih kecil, sehingga untuk sementara kedudukan raja digantikan oleh putra saudara sepupunya, Umbu Karai. Umbu Muhama mengambil alih kekuasaan pada tahun 1929 setelah Umbu Karai meninggal dunia. Namun kekuasaannya tidak bertahan lama, karena dianggap kurang cakap, pada tahun 1932 Umbu Muhama digantikan oleh saudaranya, Umbu Dondu Rawambaku. Umbu Dondu juga tidak bertahan lama. Ia terlibat dalam suatu perkara hukum sehingga pada tahun 1934 dicopotdari jabatannya dan digantikan olehTimotius Umbu Tunggu Bili sampai bergantinya sistem pemerintahan di tahun 1962. Sebelum tahun 1915 wilayah Bolubokat merupakan bagian kerajaan Mamboru namun kemudian digabung dengan kerajaan Umbu Ratu Nggay.Kerajaan Mamboru sendiri mendapat tambahan wilayah Tana Righu yang semula merupakan bagian kerajaan Loura.
Walau tokoh-tokohnya tetap memiliki pengaruh kuat di kalangan masyarakat, sebagaimana adanya mereka sebelum dikukuhkan sebagai raja oleh Belanda, namun wacana tentang kerajaan perlahan memudar seiring berakhirnya kekuasaan Belanda, terlebih lagi setelah terbentuknya pemerintahan Kabupaten, dimana sebagian besar wilayahyang tadinya disebut kerajaan beralih bentuk menjadi kecamatan.
(SUMBER BUKU : KEBUDAYAAN SUMBA BARAT edisi revisi, Oleh : Anisa Umar Bamualim. Editor


Komentar
Posting Komentar